Rabu, 02 Januari 2019

AGAMA DAN MASYARAKAT


10.1    Fungsi Agama

Fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian.
Teori fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu berwujud suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peratuaran, dan sistem sosial yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain, setiap saat mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi di sekeliling.
Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat sakral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sakral. Dalam setiap masyarakat sanksi sakral mempunyai kekuatan memaksa istimewa, karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi dan supramanusiawi dan ukhrowi.
1)      Fungsi agama di bidang sosial adalah fungsi penentu, di mana agama menciptakan suatu   ikatan bersama, baik di antara anggota-anggota beberapa mayarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka.
2)      Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia tumbuh menjadi dewasa, memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntunan umum untuk (mengarahkan) aktivitasnya dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua di mana pun tidak mengabaikan upaya “moralisasi” anak-anaknya, seperti pendidikan agama mengajarkan bahwa hidup adalah untuk memperoleh keselamatan sebagai tujuan utamanya. Oleh sebab itu, untuk mencapai tujuan tersebut harus beribadat dengan kontinyu dan teratur, membaca kitab suci dan berdoa setiap hari, menghormati dan mencintai orang tua, bekerja keras, hidup secara sederhana, menahan diri dari tingkah laku yang tidak jujur, tidak berbuat yang senonoh dan mengacau, tidak minum-minuman keras, tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan tidak berjudi. Maka perkembangan sosialnya terarah secara pasti serta konsisten dengan suara hatinya.
Dimensi agama :
Masalah fungsionalisme agama dapat dinalisis lebih mudah pada komitmen agama, menurut Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi.
1)      Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan    menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran agama.
2)      Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata. Ini menyangkut, pertama, ritual, yaitu berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religius formal, dan perbuatan mulia. Kedua, berbakti tidak bersifat formal dan tidak bersifat publik serta relatif spontan.
3)      Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu berhubungan, meskipun singkat, dengan suatu perantara yang supernatural.
4)      Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan, bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.
5)      Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.

10.2    Pelembagaan Agama

1.      Agama dan Masyarakat
Dari berbagai budaya yang ada di Indonesia dapat dikaitkan hubungannya dengan agama dan masyarakat dalam melestraikan budaya.Sebagai contoh budaya Ngaben yang merupakan upacara kematian bagi umat hindu Bali yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya.Hal ini membuktikan bahwa agama mempunyai hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaannya.Selain itu masyarakat juga turut mempunyai andil yang besar dalam melestarikan budaya, karena masyarakatlah yang menjalankan semua perintah agama dan ikut menjaga budaya agar tetap terpelihara.
Tipe-Tipe Kaitan Agama dalam Masyarakat :
Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan sebenarnya secra utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954):
1)      Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sakral.
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyrakat menganut agama yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama. Agama menyusup ke dalam kelompok aktivitas yang lain. Sifat-sifatnya :
2)      Agama memasukkan pengaruhnya yang sacral ke dalam system nilai masyarakat secra mutlak.
Dalam keadaan lain selain keluarga relatif belum berkembang, agama jelas menjadi fokus utama bagi pengintegrasian dan persatuan dari masyarakat secara keseluruhan.
3)      Masyarakat praindustri yang sedang berkembang.
Keadaan masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi darpada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada system nilai dalam tiap mayarakat ini, tetapi pada saat yang sama lingkungan yang sacral dan yang sekular itu sedikit-banyaknya masih dapat dibedakan.
4)      Masyarakat- masyarakat industri sekular
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai konsekuensi penting bagi agama, Salah satu akibatnya adalah anggota masyarakat semakin terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam menanggapi masalah kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular semakin meluas. Watak masyarakat sekular menurut Roland Robertson (1984), tidak terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya pemikiran agama, praktek agama, dan kebiasaan- kebiasaan agama peranannya sedikit.

2.      Pelembagaan agama
Pelembagaan agama adalah suatu tempat atau lembaga untuk membimbing, membina dan mengayomi suatu kaum yang menganut agama. Pelembagaan Agama di Indonesia yang mengurusi agamanya
1)      Islam : MUI
MUI atau Majelis Ulama Indonesia adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mewadahi ulama, zu’ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 juli 1975 di Jakarta, Indonesia.
2)      Kristen
a.       Kristen : Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI)
PGI (dulu disebut Dewan Gereja-gereja di Indonesia – DGI) didirikan pada 25 Mei 1950 di Jakarta sebagai perwujudan dari kerinduan umat Kristen di Indonesia untuk mempersatukan kembali Gereja sebagai Tubuh Kristus yang terpecah-pecah. Karena itu, PGI menyatakan bahwa tujuan pembentukannya adalah “mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia.”
b.      Katolik : Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI atau Kawali) adalah organisasi Gereja Katolik yang beranggotakan para Uskup di Indonesia dan bertujuan menggalang persatuan dan kerja sama dalam tugas pastoral memimpin umat Katolik Indonesia. Masing-masing Uskup adalah otonom dan KWI tidak berada di atas maupun membawahi para Uskup dan KWI tidak mempunyai cabang di daerah. Keuskupan bukanlah KWI daerah. Yang menjadi anggota KWI adalah para Uskup di Indonesia yang masih aktif, tidak termasuk yang sudah pensiun. KWI bekerja melalui komisi-komisi yang diketuai oleh Uskup-Uskup. Pada 2006 anggota KWI berjumlah 36 orang, sesuai dengan jumlah keuskupan di Indonesia (35 keuskupan) ditambah seorang uskup dari Ambon (Ambon memiliki 2 uskup).
3)      Hindu : Persada
Parisada Hindu Dharma Indonesia ( Parisada ) ialah: Majelis tertinggi umat Hindu Indonesia.
4)      Budha : MBI
Majelis Buddhayana Indonesia adalah majelis umat Buddha di Indonesia. Majelis ini didirikan oleh Bhante Ashin Jinarakkhita pada hari Asadha 2499 BE tanggal 4 Juli 1955 di Semarang, tepatnya di Wihara Buddha Gaya, Watugong, Ungaran, Jawa Tengah, dengan nama Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) dan diketuai oleh Maha Upasaka Madhyantika S. Mangunkawatja.
5)      Konghucu : Matakin
Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (disingkat MATAKIN) adalah sebuah organisasi yang mengatur perkembangan agama Khonghucu di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tahun 1955.
Keberadaan umat beragama Khonghucu beserta lembaga-lembaga keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau pedagang-pedagang Tionghoa ke tanah air kita ini. Mengingat sejak zaman Sam Kok yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi, Agama Khonghucu telah menjadi salah satu di antara Tiga Agama Besar di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman dinasti Han, atau tepatnya tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama Negara.

10.3    Agama, Konflik, Dan Masyarakat

Selain itu unsur konflik yang terbesar terjadi pula pada pengikut agama terbesar di dunia yaitu Abraham Religions, atau agama yang diturungkan oleh Abraham, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Hal yang menjadi masalah utama adalah tidak ada kesepakatan diantara ketiga agama tersebut tentang siapa nabi yang akan datang tersebut. Pihak Yahudi menyatakan belum datang nabi terakhir itu, sedangkan pihak Nasrani mengatakan Nabi Isa (Yesus Kristus) adalah nabi terakhir, lalu Islam mengklaim Nabi Muhhamad sebagai nabi terakhir.
 Keadaan ini kemudian semakin diperparah ketika tidak ada pengakuan dari masing-masing agam yang masih bersaudara tersebut. Ketika berbagai unsure non-theologis, khususnya politik, ekonomi, dan budaya, menyusup ke dalam masalah ini, konflik memang tidak dapat dielakkan.

Studi kasus

 

Pengeboman di Surabaya: 'Marah, sedih, dan trauma' jemaat gereja


Secara perlahan, umat gereja berkapasitas 1.500 orang itu mulai bangkit kembali, termasuk Pastur Rekan Aloysius Widyawan yang kehilangan enam jemaatnya.
"Kaget, marah, kok bisa seperti itu, sedih luar biasa, campur aduk," ungkap Romo Widyawan mengomentari serangan yang terjadi di gereja.
"Ditambah lagi, dengan suasana mencekam, harus memikirkan apa yang akan terjadi karena pasti orang pasti trauma, anak-anak terutama," tambahnya ketika diwawancarai wartawan BBC News Indonesia, Mehulika Sitepu dan Oki Budhi.
Bagaimana para perempuan menjadi pelaku teror dan membawa anak?
Tokoh agama dan ormas masyarakat mengutuk serangan bom tiga gereja di Surabaya
Anak-anak dalam teror pengeboman di Surabaya: Siapa terduga pelaku dan siapa korban
Perkataan Romo Widyawan merujuk kepada keluarga korban, semisal Wenny dan Erry Hudojo. Serangan bom pada Minggu (16/05) merenggut nyawa kedua anak mereka, Vincentius Evan dan Nathaniel Ethan.
Bom meledak ketika Evan dan adiknya hendak memasuki gereja. Erry, ayah kedua anak itu, sedang memarkir mobil. Wenny, sang ibu juga terluka.
Pada Rabu (16/05), ratusan orang menghadiri ibadah penutupan peti jenazah Evan dan Ethan di persemayaman Adijasa Surabaya.
Sebelum ibadah, Wenny, dengan kursi roda dan infus yang masih melekat di tubuhnya, memilah barang-barang pribadi kedua anaknya.
Meski pucat, Wenny tampak berupaya tegar, begitu pun suaminya.Jenazah Nathaniel Evan dan Vincentius Evan telah dimasukkan ke dalam peti untuk kemudian dimakamkan. Mereka adalah dua kakak-beradik yang menjadi korban serangan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela.
Ratusan orang menghadiri ibadah tutup peti dua kakak-beradik yang menjadi korban serangan bom. Bagi para umat di Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, yang juga diserang pada Minggu pagi, pemulihan trauma adalah langkah penting.
"Nanti malam kita akan mulai melakukan pendekatan ke jemaat. Adakah jemaat-jemaat yang memerlukan layanan-layanan itu, pasti banyak anak-anak terutama dan orang dewasa yang mengalami trauma akibat kejadian kemarin ini," terang Daniel Theopilus Hage, Ketua Umum Majelis Jemaat GKI.
Dia mencontohkan trauma yang dihadapi seorang ibu di gerejanya yang ditemuinya saat evakuasi.
Sejumlah pekerja memperbaiki dan membersihkan Gereja Santa Maria Tak Bercela—salah satu gereja yang dilanda serangan bom.
"Ketika saya mengatakan, 'Bu, bisa pulang, bisa naik mobil sudah dijemput', dia ketakutan untuk naik mobil. Dia bilang, 'Pak bisa dicek di mobil saya ada bom atau tidak?'. Memang ekspresi wajahnya sangat ketakutan saat itu," kisah Daniel.

Di Gereja Santa Maria Tak Bercela dan GKI Jalan Diponegoro tampak hadir beberapa wakil dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) serta dari perwakilan beberapa gereja di kota lain untuk memberi dukungan kepada para jemaat.
Ketua GP Ansor Jateng, Sholahudin Aly (kiri), rohaniawan Katolik Romo Aloys Budi Purnomo (kedua kiri), rohaniawan Romo Notowardoyo (ketiga kiri), bersama sejumlah anggota Banser berdoa bersama untuk korban peristiwa bom Surabaya, Minggu (13/5).
Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Jawa Timur dan Indonesia, juga memberi dukungan dalam hal pengamanan.
"Tapi nanti apapun yang diperlukan dalam koordinasi aparat kepolisian dan pemerintah kota, (walikota) Bu Risma dalam hal ini, kita siap akan bantu, untuk fasilitas umum, keamanan di sekitarnya," kata Muhibbin Zuhri, Ketua PCNU Surabaya.
Dengan semua dukungan yang diberikan, Gereja Santa Maria Tak Bercela mengaku sudah siap untuk beribadah pada hari Minggu seperti biasa, namun masih menunggu instruksi dari kepolisian.
Gereja Kristen Indonesia juga sudah bisa beroperasi seperti biasa.
Adapun Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno yang menderita kerusakan paling parah, masih diberi garis polisi.
"Misalnya potongan-potongan tubuh, itu masih berceceran, itu yang kita cari. Untuk kita satukan, kita identifikasi," papar Juru bicara Polda Jatim, Frans Barung Mangera.
Hingga saat ini, bom bunuh diri di tiga gereja memakan 13 korban sipil. Di antara para jenazah, terdapat terduga pelaku, yakni keluarga yang terdiri dari enam orang— termasuk dua anak perempuan.

Solusi :
·         Mencegah adanya ajaran agama yang radikalis
·         Menjaga Persatuan Dan Kesatuan
·         Meningkatkan Pemahaman Akan Hidup Kebersamaan
·         Menyaring Informasi Yang Didapatkan


Daftar pustaka





ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN



9.1       Ilmu pengetahuan

Secara umum, Pengertian ilmu pengetahuan adalah suatu sistem berbagai pengetahuan yang didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan metode-metode tertentu. Secara etimologi, ilmu berasal dari bahasa arab dari kata ilm yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahuan.
Pengertian Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan alam manusia. Sedangkan Pengertian Pengetahuan adalah informasi yang telah diproses dan diorganisasikan untuk memperoleh pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan ke dalam masalah/proses bisnis tertentu. Sikap ilmiah adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang peneliti, untuk dapat melalui proses penelitian yang baik dan hasil yang baik pula.
Sikap-sikap ilmiah meliputi:
1)      Obyektif terhadap fakta. Obyektif artinya menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang. Contoh: Seorang peneliti menemukan bukti pengukuran volume benda 0,0034 m3, maka ia harus mengatakan juga 0,0034m3, padahal seharusnya 0,005m3.
2)      Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang mendukung kesimpulan itu. Contoh: Ketika seorang ilmuwan menemukan hasil pengamatan suatu burung mempuyai paruh yang panjang dan lancip, maka dia tidak segera mengatakan semua burung paruhnya panjang dan lancip, sebelum data-datanya cukup kuat mendukung kesimpulan tersebut.
3)      Berhati terbuka artinya bersedia menerima pandangan atau gagasan orang lain, walaupun gagasan tersebut bertentangan dengan penemuannya sendiri. Sementara itu, jika gagasan orang lain memiliki cukup data yang mendukung gagasan tersebut maka ilmuwan tersebut tidak ragu menolak temuannya sendiri.
4)      Tidak mencampuradukkan fakta dengan pendapat. Contoh: Tinggi batang kacang tanah di pot A pada umur lima (5) hari 2 cm, yang di pot B umur lima hari tingginya 6,5 cm. Orang lain mengatakan tanaman kacang tanah pada pot A terlambat pertumbuhannya, pernyataan orang ini merupakan pendapat bukan fakta.


9.2       Teknologi


1.       Pengertian
Teknologi adalah sebuah pengetahuan yang ditujukan untuk menciptakan alat, tindakan pengolahan dan ekstraksi benda. Istilah “teknologi” telah dikenal secara luas dan setiap orang memiliki cara mereka sendiri memahami pengertian teknologi. Teknologi digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan kita sehari-hari, secara singkat; kita bisa menggambarkan teknologi sebagai produk, proses, atau organisasi. Selain itu, teknologi digunakan untuk memperluas kemampuan kita, dan yang membuat orang-orang sebagai bagian yang paling penting dari setiap sistem teknologi yang ada dan berkembang disekitarnya.
2.       Ciri-ciri fenomena teknik di masyarakat
Fenomena teknik pada masyarakat teknik, menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagia berikut :
1. Rasionalistas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis. Demikian juga dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non teknis menjadi kegiatan teknis
4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan
5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung
6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7. otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
3.       Ciri-ciri teknologi barat
1)      Ciri-ciri teknologi Barat tersebut adalah:
2)      Serba intensif dalam segala hal, seperti modal, organisasi, tenaga kerja dll. Sehingga lebih akrab dengan kaum elit daripada dengan buruh itu sendiri.
3)      Dalam struktur sosial, teknologi barat bersifat melestarikan sifat kebergantungan.
4)      Kosmologi atau pandangan teknologi Barat adlaah menganggap dirinya sebagai pusat yang lain feriferi, waktu berkaitan dengan kemanjuan secara linier, memahami realitas secara terpisah dan berpandangan manusia sebagai tuan atau mengambil jarak dengan alam.

9.3       Ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai

Ilmu dipandang sebagai proses karena ilmu merupakan hasil dari kegiatan sosial, yang berusaha memahami alam, manusia dan perilakunya baik secara individu atau kelompok. Apa yang dihasilkan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil penalaran (rasio) secara objektif. Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh dari hasil metode keilmuwan  yang diakui secara umum dan universal sifatnya. Oleh karena itu ilmu dapat diuji kebenarannya, sehingga tidak mustahil suatu teori yang sudah mapan suatu saat dapat ditumbangkan oleh teori lain.
Kaitan ilmu dan teknologi dengan nilai moral, berasal dari ekses penerapan ilmu dan teknologi sendiri. Dalam hal ini sikap ilmuwan dibagi menjadi dua golongan:
1)      Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun aksiologis, soal penggunaannya terserah kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah digunakan untuk tujuan baik atau buruk. Golongan ini berasumsi bahwa kebenaran itu dijunjung tinggi sebagai nilai, sehingga nilai-nilai kemanusiaan lainnya dikorbankan demi teknologi.
2)      Golongan yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu bersifat netral hanya dalam batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaan dan penelitiannya harus berlandaskan pada asas-asa moral atau nilai-nilai. Golongan ini berasumsi bahwa ilmuwan telah mengetahui ekses-ekses yang terjadi apabila ilmu dan teknologi disalahgunakan.


9.4       Kemiskinan


1.       Pengertian
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
2.       Ciri-ciri
Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Tidak memiliki factor-faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan.
2)      Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha.
3)      Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai taman SD.
4)      Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
5)      Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.

3.       Fungsi kemiskinan
1)      Fungsi Ekonomi
Penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu menimbulkan dana sosial, membuka lapangan kerja baru dan memanfaatkan barang bekas (masyarakat pemulung).
2)      Fungsi Sosial
Meninmbulkan altruisme (kebaikan spontan) dan perasaan, sumber imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi kelas lain dan merangsang munculnya badan amal.
3)      Fungsi Kultural
Sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama manusia.
4)      Fungsi Politik
Berfungsi sebagai kelompok gelisan atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok lain.
Walaupun kemiskinan mempunyai fungsi, bukan berarti menyetujui lembaga tersebut. Tetapi karena kemiskinan berfungsi maka harus dicarikan fungsi lain sebagai pengganti.
Adapun fungsi lain dari kemiskinan yaitu:
o   Kemiskinan menyediakan tenaga kerja untuk pekerjaan-pekerjaan kotor, tak terhormat, berat, berbahaya, namun dibayar murah. Orang miskin dibutuhkan untuk membersihkan got-got yang mampet, membuang sampah, menaiki gedung tinggi, bekerja di pertambangan yang tanahnya mudah runtuh, jaga malam. Bayangkan apa yang terjadi bila orang miskin tidak ada. Sampah bertumpuk, rumah dan pekarangan kotor, pembangunan terbengkalai, Banyak kegiatan ekonomi yang melibatkan pekerjaan kotor dan berbahaya yang memerlukan kehadiran orang miskin.
o   Kemiskinan memperpanjang nilai-guna barang atau jasa. Baju bekas yang tak layak pakai dapat dijual (diinfakkan) kepada orang miskin, termasuk buah-buahan yang hampir busuk, sayuran yang tidak laku, Semuanya menjadi bermanfaat (atau dimanfaatkan) untuk orang-orang miskin.
o   Kemiskinan mensubsidi berbagai kegiatan ekonomi yang menguntungkan orang-orang kaya. Pegawai-pegawai kecil, karena dibayar murah, mengurangi biaya produksi dan akibatnya melipatgandakan keuntungan. Petani tidak boleh menaikkan harga beras mereka untuk mensubsidi orang-orang kota.
o   Kemiskinan menyediakan lapangan kerja. Karena ada orang miskin, lahirlah pekerjaan tukang kredit, aktivis-aktivis LSM yang menyalurkan dana dari badan-badan internasional, dan yang pasti berbagai kegiatan yang dikelola oleh departemen sosial. Tidak ada komoditas yang paling laku dijual oleh Negara Dunia Ketiga di pasar internasional selain kemiskinan.
o   Memperteguh status sosial orang kaya.


Studi Kasus :


Meski Kaya Minyak, Rakyat Nigeria Hidup Miskin

Dilansir dari Brookings, Nigeria baru-baru ini melewati India sebagai negara dengan penduduk miskin terbanyak di dunia. Terhitung ada 87 juta rakyat miskin di Nigeria, sementara di India terdapat 73 juta orang. Sebagai catatan, Nigeria memiliki populasi 198 juta orang.
Nigeria sendiri sebetulnya memiliki SDA yang melimpah; lahan agrikulturnya luas, minyaknya yang banyak mengantarnya sebagai anggota OPEC, dan di dalam tanahnya terdapat beragam mineral, dan negara ini terkenal sebagai pengekspor minyak bumi.
Berdasarkan data Brookings, ada enam orang menjadi meski pada tiap menit di Nigeria. Sementara, kemiskinan India terus menerus menurun, dan Republik Kongo diproyeksikan akan mengambil peringkat dua dari India.
Dua per tiga rakyat miskin di dunia berasal dari Afrika. 14 dari 18 negara dengan kemiskinan ekstrem berasal dari Afrika.
Tidak hanya Nigeria yang memiliki SDA melimpah tapi terjebak dalam kemiskinan. Sebut saja Burkina Faso yang ternyata tanahnya kaya akan emas, tapi negara itu tetap masuk ke dalam deretan negara termiskin versi IMF.

Menurut Business Insider, kebanyakan negara-negara yang tergolong miskin menurut IMF memiliki kesamaan berupa adanya rezim otoriter dan banyaknya kasus korupsi. Akibatnya, hal itu menjadi masalah bagi para investor asing yang ingin menanam modalnya.

Solusi :
-          Kasus korupsi dalam pemerintahan harus ditindak tegas
-          Pemerintah harus peduli dengan masyarakatnya
-          Pendidikan perlu ditingkatkan agar negara punya SDM yg unggul

Daftar pustaka

PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT


8.1       Perbedaan Kepentingan

Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Dikarenakan ada dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Pada umumnya secara psikologis dikenal ada dua jenis kepentingan dan kebutuhan sosial atau psikologis. Oleh karena itu individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik jasmani maupun rohani, maka dengan sendirinya timbul perbedaan individu dalam hal kepentingannya. Perbedaan kepentingan itu antara lain :
1)      Kepentingan individu untuk memperoleh kasih sayang.
2)      Kepentingan individu untuk memperoleh harga diri.
3)      Kepentingan individu untuk memperoleh penghargaan yang sama.
4)      Kepentingan individu untuk memperoleh potensi dan posisi.
5)      Kepentingan individu untuk membutuhkan orang lain.
6)      Kepentingan individu untuk memperoleh kedudukan di dalam kelompoknya.
7)      Kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri.
8)      Kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri.
Permasalahan utama yang jelas tampak dalam tinjauan konflik ini adalah adanya jarak yang terlalu besar antara harapan (Tujuan Sosial) dengan kenyataan pelaksanaan dan hasilnya. Disinilah tercermin adanya perbedaan kepentingan dalam kerangka tinjauan politik.

8.2       Prasangka Diskriminasi Dan Ethnosentris

1.      Pengertian Prasangka, diskriminasi, dan ethosentrisme
Prasangka adalah sifat negatif terhadap sesuatu tanpa dilandasi fakta, mengira dalam hal negatif terhadap sesuatu.
Diskriminasi adalah tindakan lanjut dari prasangka buruk atau negatif dari pelaku, dilandasi oleh kebencian dan permusuhan.
Ethnosentrisme adalah kecenderungan terhadap kebudayaan sendiri sebagai tolak ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan yang lain.
2.      Latar belakang terjadinya prasangka, diskriminasi, dan ethosentrisme
1)      Kecemburuan sosial
2)      Perbedaan keyakina, kepercayaan dan agama
3)      Kesenjangan ekonomi
3.      Solusi
1)      Saling menghormati dan menghargai
2)      Pemerataan pembangunan
3)      Memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi
4)      Merealisasikan nilai-nilai pancasila

8.3       Pertentangan Sosial Ketegangan Dalam Masyarakat

Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misal kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada lingkungan yang paling kecil yaitu individu sampai kepada lingkup yang luas, yakni masyarakat:
1)      Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk pada adanya pertentangan atau emosi-emosi dan dorongan-dorongan antagonistic di dalam diri seseorang.
2)      Pada taraf kelompok, konflik-konflik ditimbulkan dari konflik-konflik yang terjadi dalam diri individu dari perbedaan-perbedaan anggota kelompok dalam tujuan, nilai, norma serta minat untuk menjadi anggota kelompok.
3)      Pada taraf masyarakat, konflik bersumber pada perbedaan nilai dan norma kelompok dengan nilai dan norma kelompok lain.
Tipe konflik ini timbul dari proses-proses yang tidak rasional dan emosional dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Upaya untuk memecahkan konflik selalu timbul selama berlangsungnya kehidupan suatu kelompok, namun terdapat perbedaan-perbedaan di dalam sifat dan intensitas konflik pada berbagai tahap perkembangan kelompok. Adapun cara-cara pemecahan konflik sebagai berikut:
1)      Elimination: Pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik.
2)      Subjugation atau Domination: Orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk mentaatinya.
3)      Majority Rule: Suara terbanyak yang ditentukan dengan voting, akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4)      Minority Consent: Kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan, dan menerima keputusan serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.
5)      Compromise (Kompromi): Kedua atau semua sub kelompok yang terlibat di dalam konflik, berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah.
6)      Integration: Pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.



Usaha-usaha untuk menghindari perbedaan-perbedaan dan untuk memendam konflik-konflik, tidak pernah berhasil dalam waktu yang lama. Kesatupaduan di dalam perbedaan-perbedaan merupakan suatu nilai yang menghargai perbedaan, yang menggunakan perbedaan-perbedaan tersebut untuk memperkuat kelompok.

8.4       Golongan-golongan yang berbeda dan integrasi sosial

1)      Masyarakat Majemuk dan Nasion Indonesia
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk, yaitu suatu masyarakat negara yang terdiri dari beberapa suku bangsa/golongan sosial yang dipersatukan oleh kekuatan nasional, yaitu berwujud negara indonesia.
2)      Integrasi
Penduduk Indonesia yang menempati wilayah yang luas ini bukan hanya terikat oleh satu sistem kebudayaan, tetapi banyak sistem kebudayaan. Berikut adalah sistem yang berlaku di Indonesia :
a.       Sistem Kebudayaan Daerah
b.      Sistem Kebudayaan Agama seperti Islam, Kristen, Hindu dan Budha
c.       Sistem Kebudayaan Nasional
d.      Sistem Kebudayaan Asing seperti Cina, Arab dan Eropa
Keempat sistem diatas merupakan unsur dari kebudayaan nasional. Karena itu harus memperjelas dalam hubungan antara :
a.       Kebudayaan atau Kekuatan nasional dengan kebudayaan suku-suku bangsa/daerah
b.      Kebudayaan suku-suku bangsa/daerah dengan kebudayaan suku-suku bangsa/daerah lain
Variabel-variabel lain yang dapat menjadi penghambat dalam integrasi yaitu :
a.       Klaim/Tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai miliknya
b.      Isu asli tidak asli
c.       Isu agama
d.      Prasangka dan Ethnosentrisme
3)      Integrasi Sosial
Integrasi sosial (integrasi masyarakat) dapat diartikan adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lembaga dan masyarakat secara keseluruhan sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan berupa adanya konsesus nilai-nilai yang sama-sama dijunjung tinggi.

8.5       Integrasi nasional

Integrasi Nasional adalah merupakan masalah yang dialami oleh semua negara atau nation yang ada di dunia, yang berbeda adalah bentuk permasalahan yang dihadapinya.
Menghadapi masalah integrasi ini sebenarnya tidak memilki kunci yang pasti karena masalah yang dihadapi berbeda dan latar belakang sosio kultural nation state yang berbeda pula. Sehingga masalah integrasi in cenderung diselesaikan sesuai dengan kondisi negara yang bersangkutan. Ada yang menempuh jalan kekerasan dan ada yang menempuh strategi politik yang lenih lunak.

8.6       Studi Kasus


Pembantaian 31 Pekerja Jembatan di Papua Diduga Gara-Gara Memotret

Dari informasi yang beredar, penembakan diduga lantaran seorang dari pekerja sempat melihat dan memotret kelompok kriminal bersenjata saat mereka sedang malaksanakan upacara.
Pendeta Wilhelmus Kogoya, tokoh gereja di Distrik Yigi telah melaporkan kasus pembantaian di kali Yigi dan Aurak, Distrik Yall, Kabupaten Nduga, Papua, telah menewaskan 24 pekerja pada Minggu (2/12).
Sementara, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal sebelumnya mengatakan pembantaian ini diduga dilakukan saat puluhan korban tengah membangun jembatan di dua lokasi. Dari informasi masyarakat  pembunuhan terhadap pekerja proyek Istaka Karya terjadi pada Minggu (2/12) di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga. 
"Yang sedang membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua," ujar dia.
Menurut Musthofa para pekerja tersebut sedang membangun jembatan untuk menghubungkan suatu daerah guna memperlancar pembangunan, namun karena aksi tidak manusiawi kelompok kriminal bersenjata tersebut pembangunan jembatan menjadi terhambat.

Solusi :
Kemungkinan terjadi kesalahpahaman antara para pekerja dan kelompok tersebut yang mengakibatkan terjadinya penembakan
-         Seharusnya para pekerja lebih menjaga tingkah lakunya karena sedang berada di wilayah asing
-         Sebaiknya kelompok tersebut tidak brutal dengan membantai para pekerja
-         Seharusnya masalah ini dapat diselesaikan dengan musyawarah dan kepala dingin sehingga tidak akan terjadi korban berjatuhan.


8.7       Daftar Pustaka